Blog resmi MASJID BAITURRAHIIM Rt 04 Rw 04 Kel. Ledeng Kec. Cidadap Kota Bandung, blog ini merupakan sarana untuk berbagi informasi dan mempererat tali silaturahmi sesama muslim khususnya jamaah masjid Baiturrahim


KEUTAMAAN ANAK PEREMPUAN



Ketika sepasang suami istri mendambakan kelahiran sang anak, banyak yang mendambakan agar yang lahir nanti adalah seorang lelaki sebagai penerusnya kelak. Ketika Allah Ta'ala menakdirkan bahwa mereka diberi amanat untuk mendidik anak perempuan, sebagian mereka pun bersedih, kecewa bahkan marah kepada sang istri yang tak kunjung melahirkan anak laki-laki. Mungkin bagi yang sudah punya 2 putri akan mendambakan bahwa yang ketiga adalah laki-laki, sehingga ketika yang terlahir adalah perempuan lagi, ada raut kecewa terpancar dari mereka. Hakikatnya kekecewaan seperti ini serupa dengan kaum Jahiliyah yang Allah Ta'ala kabarkan dalam firman-Nya, artinya,

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.”
(QS. an-Nahl; 58-59)

Lalu Allah Ta'ala mencela perbuatan kaum Jahiliyah ini dengan firman-Nya, artinya,
“Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh,”
(QS. at-Takwir: 8-9)

Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wasallam pun bersabda,
“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka pada ibu, menolak untuk memberikan hak orang lain dan menuntut apa yang bukan haknya, serta mengubur anak perempuan hidup-hidup. Dan Allah membenci bagi kalian banyak menyebar gosip, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.”
(HR. al-Bukhari, no. 5975 dan Muslim, no. 593)

Demikianlah perilaku kaum Jahiliyah yang sangat membenci anak perempuan bahkan tega untuk menguburnya hidup-hidup. Dan yang sangat disayangkan, banyak kaum muslimin yang hampir menyerupai mereka dalam hal kebencian terhadap anak perempuan. Padahal kalau seandainya mereka mengetahui ada pahala besar menanti mereka ketika dengan legawa menerima kehadiran anak perempuan dan mendidiknya dengan benar, maka niscaya tak ada lagi kesedihan yang memayungi mereka.

Imam Muslim Rahimahullah meletakkan satu bab khusus dalam kitab Shahih Muslim dengan judul, “Keutamaan berbuat baik pada anak-anak perempuan” Lalu apa keutamaan mendidik anak perempuan? Pertama; Anak perempuan adalah anugerah dari Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman,

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia membuat mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.”
(QS. asy-Syura: 49-50)

Az-Zuhaili Rahimahullah mengatakan bahwa Allah Ta'ala mendahulukan penyebutan anak-anak perempuan sebagai bentuk perhatian dan penjagaan Allah Ta'ala kepada mereka karena kelemahan mereka dan sebagai bantahan kepada orang Arab (Jahiliyyah) karena benci dengan anak perempuan. (lihat Tafsir Al-Munir li Az-Zuhaili, 25/101 (Maktabah Syamilah))

Kedua; Menjadi sebab orangtua masuk Surga. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, beliau Radhiyallahu anha berkata,

“Seorang wanita miskin datang kepadaku dengan membawa dua anak perempuannya, lalu aku memberinya tiga buah kurma. Kemudian dia memberi untuk anaknya masing-masing satu buah kurma, dan satu kurma ingin dia masukkan ke mulutnya untuk dimakan sendiri. Namun kedua anaknya meminta kurma tersebut. Maka si ibu pun membagi dua kurma yang semula hendak dia makan untuk diberikan kepada kedua anaknya. Peristiwa itu membuatku takjub sehingga aku ceritakan perbuatan wanita tadi kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam. Maka Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menetapkan baginya Surga dan membebaskannya dari Neraka.””
(HR. Muslim, no.6863)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda,
“Barangsiapa yang memiliki tiga orang anak perempuan yang dia jaga, dia cukupi dan dia sayangi, maka pasti baginya Surga.” Seseorang bertanya, “Dua juga, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dan dua juga.”
(Shahih al-Adabul Mufrad, no. 78/58)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam juga bersabda,
“Tidaklah seorang muslim yang memiliki dua anak perempuan yang telah dewasa, lalu dia berbuat baik pada keduanya, kecuali mereka berdua akan memasukkannya ke dalam Surga.”
(Shahih al-Adabul Mufrad, no. 77/57)

Ketiga; Menjadi penghalang siksa Neraka Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda,
“Tidaklah seorang muslim memiliki tiga orang putri kemudian menafkahinya sampai mereka menikah atau meninggal, kecuali mereka akan menjadi penghalang dari Api Neraka.” Kemudian ada seorang perempuan bertanya, “Atau dua juga?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam menjawab, “Dua juga.”
 (HR. at-Tabrani, berkata Syaikh al-Albani dalam Shahih Targhib wa Tarhib, no 1972, “Hasan Lighairihi”)

Dalam hadits lain dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda,
 “Barangsiapa yang memiliki tiga orang anak perempuan, lalu dia bersabar atas mereka, memberi mereka pakaian dari hartanya, maka mereka menjadi penghalang baginya dari api neraka.”
(Shahih al-Adabul Mufrad, no. 76/56)

Keempat; Berdampingan dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam pada Hari Kiamat Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda,
 “Barangsiapa yang memelihara dua anak perempuan hingga dewasa, dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan aku dan dia (seperti ini).” Beliau menggabungkan jari-jemarinya.
(HR. Muslim. no. 6864)

Imam an-Nawawi Rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud (عَالَ) adalah menunaikan hak-hak dengan menafkahi dan mendidik mereka serta memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lainnya.” (Syarhu Shahih Muslim li an-Nawawi, 8/472)

Kelima; Menyerupai Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam Karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam memiliki empat orang anak perempuan yang lahir dari Khadijah Radhiyallahu 'anha. Mereka adalah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah. Bahkan Fatimah Radhiyallahu 'anha mendapat keutamaan besar dengan menjadi wanita terbaik penghuni Surga.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda,
 “Sebaik-baik wanita penghuni Surga adalah Khadijah bintu Khuwailid, Fathimah bintu Muhammad, Asiyah bintu Muzahim istri Fir’aun, dan Maryam bintu ‘Imran.”
(HR. Ahmad, no. 2668).

Sungguh contoh nyata ungkapan kasih sayang orangtua terhadap anak perempuan adalah seperti yang langsung dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam. ‘Aisyah Radhiyallahu 'anha mengisahkannya kepada kita,

“Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mirip dengan Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam dalam cara bicara maupun duduk dari Fathimah.” ‘Aisyah berkata lagi, “Adalah Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam jika melihat Fathimah datang, beliau Shallallahu 'alaihi Wasallam mengucapkan selamat datang padanya, lalu berdiri menyambutnya dan menciumnya, kemudian beliau menggandeng tangannya sampai beliau dudukkan Fathimah di tempat duduk beliau. Demikian pula ketika Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam datang padanya, maka Fathimah Radhiyallahu 'anha mengucapkan selamat datang pada beliau, kemudian berdiri menyambutnya, menggandeng tangannya, lalu menciumnya.”
(Shahih al-Adabul Mufrad, no. 947/729)

Contoh lainnya seperti dilakukan oleh sahabat terbaik Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu 'anhu. kisahnya diceritakan oleh al-Bara’ bin ‘Azib Radhiyallahu 'anhu,

“Aku pernah masuk bersama Abu Bakar Radhiyallahu 'anhu menemui keluarganya. Ternyata ‘Aisyah Radhiyallahu 'anha putrinya sedang terbaring sakit panas. Aku pun melihat Abu Bakar Radhiyallahu 'anha mencium pipi putrinya sambil bertanya, ‘Bagaimana keadaanmu, wahai putriku?’”
(HR. al-Bukhari, no. 3918)

Demikianlah keindahan dan pahala besar bagi yang memiliki anak perempuan, semoga hadirnya tulisan ini bisa menjadi pencerah bagi siapapun yang punya anak perempuan. Wallahu a’lam (Redaksi)

Sumber: alsofwah.com

Ahli Ibadah & Seorang Perempuan  buletin an-naba edisi 61

Ahli Ibadah & Seorang Perempuan buletin an-naba edisi 61


    Diriwayatkan dari Abu Dzar radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Salah seorang ahli ibadah pada masa Bani Israil selalu beribadah kepada Allah di rumah ibadahnya selama 60 tahun. Suatu ketika, hujan turun membasahi bumi sehingga menjadi hijau subur. Kemudian, ahli ibadah itu keluar dari rumah ibadahnya sambil berbisik, 'Sekiranya aku turun dari padepokan ini kemudian memperbanyak dzikir tentulah kebaikanku bertambah.'
    Lalu ia turun dari padepokan dengan membawa satu atau dua potong roti. Ketika ia berjalan-jalan, tiba-tiba ia bertemu dengan seorang perempuan. Lalu dia mulai bercakap-cakap dengan perempuan tersebut, si perempuan juga nampak asyik ngobrol dengannya sehingga tanpa diduga ahli ibadah tadi terlena dan berzina dengannya. Lelaki ahli ibadah itu pingsan, kemudian ia menceburkan diri ke danau untuk mandi.
Rupanya datang seorang peminta-minta, memberi isyarat kepadanya untuk meminta 2 atau 1 potong roti tersebut. Kemudian lelaki ahli ibadah itu mati.
    Selanjutnya, pahala amal ibadah yang dikerjakan selama 60 tahun itu ditimbang dengan dosa perbuatan zinanya, ternyata dosa zinanya lebih berat. Kemudian 1 atau 2 potong roti tadi ditimbang dengan amal kebaikan lelaki ahli ibadah tersebut, hasilnya adalah lebih berat kebaikannya, maka dosa lelaki tersebut diampuni Allah." [1]
Pelajaran Yang Dapat Dipetik:
1. Umat sebelum Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam diperbolehkan memisahkan diri dari masyarakat untuk beribadah, menghindari pergaulan dan tidak mendekati wanita (istri).

2. Dengan sebab banyak memikirkan dan merenungkan ayat-ayat Allah dan penciptaannNya, iman, pengetahuan dan mahabbah seseorang dapat bertambah.
3. Terkadang setan mendekati seorang hamba dengan cara memberi nasehat, amar ma’ruf dan berbuat kebaikan.
4. Bahaya perempuan penggoda lelaki, sesungguhnya ia adalah jerat-jerat setan.
5. Zina merupakan dosa besar.
[1] HR. Ibnu Hibban, 820.

LAKI-LAKI PEMILIK ANJING
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ketika seorang laki-laki sedang dalam perjalanan, ia kehausan. Ia masuk ke dalam sebuah sumur yang curam, lalu minum di sana. Kemudian ia keluar. Tiba-tiba ia mendapati seekor anjing di luar sumur yang sedang menjulurkan lidahnya dan menjilat-jilat tanah lembab karena kehausan. Orang itu berkata, 'Anjing ini telah merasakan apa yang baru saja saya rasakan.'
Kemudian ia kembali turun ke sumur dan memenuhi sepatunya dengan air lalu membawanya naik dengan menggigit sepatu itu. Sesampainya di atas ia minumi anjing tersebut. Karena perbuatannya tadi Allah berterimakasih kepadanya dan mengampuni dosanya."
Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kalau kami mengasihi binatang kami mendapatkan pahala?" Beliau bersabda, "Berbuat baik kepada setiap makhluk pasti mendapatkan pahala." [1]
PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK:
1. Anjuran untuk senantiasa ihsan (berbuat baik) kepada hewan yang jinak yang tidak diperintahkan untuk membunuhnya.
2. Diperbolehkan bepergian seorang diri tanpa membawa bekal perjalanan jika ia tidak khawatir dengan keselamatan dirinya yakni dari serangan musuh maupun mati kelaparan.
3. Rahmat Allah sangat luas. Dia membalas dengan karunia yang sangat banyak padahal orang itu hanya melakukan kebaikan yang sedikit.
4. Diperbolehkan menggali sumur atau sejenisnya di tempat-tempat umum untuk kemaslahatan bersama.
5. Diperbolehkan berbuat baik sekali pun kepada orang musyrik.
[1] HR. al-Bukhari, 2363; Muslim, 2244.
[Sumber: Sittuna Qishshah Rawaha an-Nabi wash Shahabah al-Kiram, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, edisi bahasa Indonesia: "61 KISAH PENGANTAR TIDUR Diriwayatkan Secara Shahih dari Rasulullah dan Para Sahabat", pent. Pustaka Darul Haq, Jakarta]
Betapa Miskinnya Kita
Suatu ketika seseorang yang sangat kaya mengajak anaknya mengunjungi sebuah kampung dengan tujuan utama memperlihatkan kepada anaknya betapa orang-orang bisa sangat miskin. Mereka menginap beberapa hari di sebuah daerah pertanian yang sangat miskin.

Pada perjalanan pulang, sang Ayah bertanya kepada anaknya.'Bagaimana perjalanan kali ini?'

'Wah, sangat luar biasa Ayah.' sahut anaknya.

'Kau lihatkan betapa manusia bisa sangat miskin.' kata ayahnya.

'Oh iya.' kata anaknya.

'Jadi, pelajaran apa yang dapat kamu ambil?' tanya ayahnya.

Kemudian si anak menjawab, 'Saya saksikan bahwa kita hanya punya satu hewan peliharaan, mereka punya empat. Kita punya kolam renang yang luasnya sampai ke tengah taman kita dan mereka memiliki telaga yang tidak ada batasnya. Kita mengimpor lentera-lentera di taman kita dan mereka memiliki bintang-bintang pada malam hari. Kita memiliki patio sampai ke halaman depan, dan mereka memiliki cakrawala secara utuh. Kita memiliki sebidang tanah untuk tempat tinggal dan mereka memiliki ladang yang melampaui pandangan kita. Kita punya pelayan-pelayan untuk melayani kita, 
tapi mereka melayani sesamanya. Kita membeli untuk makanan kita, mereka menumbuhkannya sendiri. Kita mempunyai tembok untuk melindungi kekayaan kita dan mereka memiliki sahabat-sahabat untuk saling melindungi.'
Mendengar hal ini sang Ayah tak dapat berbicara. Kemudian sang anak menambahkan, 'Terima kasih Ayah, telah menunjukkan kepada saya betapa miskinnya kita.' ***

Kadang-kadang kita sering melupakan apa yang telah kita miliki dan terus memikirkan apa yang tidak kita punya. Apa yang dianggap tidak berharga oleh seseorang ternyata merupakan dambaan bagi orang lain. Semua ini tergantung dari cara pandang seseorang. Mungkin akan lebih baik jika kita bersyukur kepada Allah sebagai rasa terima kasih kita atas semua yang telah disediakan untuk kita daripada kita terus menerus khawatir untuk meminta apa yang belum kita miliki. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang bersyukur. Aamiin. (Unknown - Icha Rochimin) Sumber: Bunga Rampai 11


Back To Top