Blog resmi MASJID BAITURRAHIIM Rt 04 Rw 04 Kel. Ledeng Kec. Cidadap Kota Bandung, blog ini merupakan sarana untuk berbagi informasi dan mempererat tali silaturahmi sesama muslim khususnya jamaah masjid Baiturrahim

ANDAI SUAMI MARAH ?

Bila Anda suami pemarah, salah sedikit naik darah, maka Anda patut paham bahwa secara umum dampak marah adalah keburukan bagi diri Anda dan orang-orang di dekat Anda, dalam hal ini adalah istri dan anak-anak Anda. Amarah memang ada dalam jiwa manusia, karena ia adalah titipan Allah, diciptakan demi kebaikan dan menjauhi keburukan, tidak ada marah sama sekali bukanlah kebaikan, sebaliknya marah melulu juga bukan kebaikan dan sebaik-baik perkara adalah tengah-tengah, tahu kapan marah dan dengan porsi yang pas dan kapan menahan diri juga dengan kadar yang pas pula.

Marah adalah bergolaknya darah dalam hati untuk melakukan pembalasan, bila seseorang marah maka api amarah bergolak yang dengannya darah dalam hati mendidih, menyebar ke aliran darah,
naik ke bagian atas tubuh, seperti air mendidih dalam bejana yang naik ke atas, karena itu wajah, mata dan kulitnya memerah, semua itu mengungkapkan warna darah yang merah yang ada di baliknya seperti kaca yang menampakkan warna apa yang ada di baliknya, darah akan mencair manakala amarah ini tertuju kepada orang yang di bawahnya dan pemiliknya merasa mampu melampiaskannya.

Bila marah terjadi dari orang yang lebih tinggi, diikuti dengan perasaan gagal melakukan pembalasan, maka hal itu menyebabkan darah tertahan dari permukaan kulit ke dalam hati sehingga ia menciptakan kesedihan, karena itu warna kulitnya pucat. Bila marahnya terhadap sesuatu yang diragukan, maka terjadi tarik ulur pada darah antara bergolak dengan tertahan, sehingga wajahnya memerah sekaligus pucat dan mengalami kegoncangan, dan pembalasan adalah makanan utama untuk kekuatan amarah.

Bila api amarah berkobar dengan kuat maka ia membutakan pemiliknya, menulikannya dari semua nasihat, karena amarah naik ke otak lalu ia menutup sumber-sumber pikiran, bahkan bisa merembet kepada simpul-simpul perasaan sehingga ia menggelapkan matanya sehingga tidak melihat dengan matanya, dunia menjadi hitam di wajahnya, otaknya menjadi seperti gua yang di dalamnya dinyalakan api, udaranya hitam, tempatnya panas, penuh dengan asap, ada cahaya lemah lalu ia padam, sehingga kaki tidak bisa melangkah dengan teguh, kata tidak terdengar padanya, potret tidak terlihat padanya, dia tidak mampu memadamkan api, demikian yang dilakukan amarah terhadap hati dan otak, bisa jadi amarahnya naik dan akhirnya membunuh pemiliknya.

Di antaranya dampak amarah di permukaan adalah perubahan kulit, berguncangnya anggota badan dengan keras, keluarnya perbuatan-perbuatan dari kontrol, perubuhan pada tubuh dan dilakukannya perbuatan orang-orang gila, seandainya orang yang marah melihat dirinya saat marah, betapa buruknya dia, niscaya dia menolak keadaan tersebut pada dirinya, dan sudah dimaklumi bahwa keburukan batin lebih besar.

Bila marah terjadi maka ia diatasi dengan beberapa tindakan.

Pertama: Merenungkan dalil-dalil yang menetapkan keutamaan menahan amarah, memaafkan, kesantunan dan kesabaran, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Ibnu Abbas bahwa seorang laki-laki meminta izin menghadap kepada Umar dan Umar mengizinkan. Laki-laki itu berkata kepada Umar, “Wahai Ibnul Khatthab, demi Allah, engkau tidak memberi banyak kepada kami dan engkau tidak memutuskan di antara kami dengan adil.” Umar marah dan berniat menimpakan sesuatu yang buruk terhadapnya, lalu al-Hurr bin Qais berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah berfirman kepada NabiNya, “Jadilah engkau pemaaf, suruhlah orang melakukan perbuatan yang baik dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.” Al-A'raf: 199, dan orang ini termasuk orang-orang yang bodoh.” Demi Allah, amarah Umar langsung padam begitu mendengar ayat tersebut, Umar adalah laki-laki yang sangat patuh kepada firman Allah.

Kedua: Hendaknya takut hukuman Allah terhadap diri yaitu dengan berkata kepada dirinya, “Kodrat Allah atasku lebih besar daripada kodratku atas orang ini, bila aku melampiaskan amarahku terhadapnya maka siapa yang menjaminku Allah tidak menurunkan amarahNya kepadaku di hari Kiamat padahal saat itu aku sangat membutuhkan maaf.”

Ketiga: Hendaknya menyadari akibat dari permusuhan dan pembalasan, musuh menyingsingkan lengan bajunya dalam menghancurkan kehormatannya dan berbahagia dengan musibah yang menimpanya, karena manusia tidak luput dari musibah, maka hendaknya dia menakut-nakuti dirinya di dunia bila tidak takut di akhirat, inilah yang disebut dengan penguasaan hawa nafsu atas amarah, tidak ada pahala untuknya, karena ia mendahulukan sebagian kepentingan di atas kepentingan yang lain, kecuali bila akibatnya adalah perubahan terhadap sebuah perkara yang membantunya mewujudkan urusan akhirat, dalam kondisi ini dia berpahala.

Keempat: Hendaknya membayangkan buruknya diri saat marah sebagaimana yang sudah disinggung sebelumnya, saat itu dia menyerupai anjing galak dan singa mengamuk, bahwa pada saat itu dia jauh dari akhlak para nabi dan para ulama, hal itu akan mendorongnya untuk meneladani mereka.

Kelima: Merenungkan sebab yang membuatnya marah, misalnya bila sebab marahnya adalah godaan setan yang berkata, “Bila kamu tidak marah maka hal itu menunjukkan bahwa kamu lemah, hina, rendah, berjiwa kerdil dan orang-orang tidak akan memandangmu lagi.” Maka hendaknya dia berkata kepada dirinya, “Kamu menolak menahan amarah sekarang, adakah kamu masih akan menolak kerendahan dan kehinaan di hari Kiamat saat orang yang kamu marahi itu memegang tanganmu dan membalasmu di sana. Kamu takut menjadi hina dan rendah di depan manusia tetapi kamu tidak takut menjadi rendah dan hina di hadapan Allah, para malaikat dan para nabi.”


Keenam: Hendaknya menyadari bahwa amarahnya hanya karena sesuatu yang berjalan sesuai dengan keinginan Allah bukan keinginannya, lalu bagaimana dia mendahulukan keinginannya di atas keinginan Allah? Semua itu berkaitan dengan hati. Wallahu a'lam. 
www.alsofwah.or.id
Labels: materi

Thanks for reading ANDAI SUAMI MARAH ?. Please share...!

0 Comment for "ANDAI SUAMI MARAH ?"

Back To Top