Buletin An Naba On-Line MASJID BAITURRAHIIM

Blog resmi MASJID BAITURRAHIIM Rt 04 Rw 04 Kel. Ledeng Kec. Cidadap Kota Bandung, blog ini merupakan sarana untuk berbagi informasi dan mempererat tali silaturahmi sesama muslim khususnya jamaah masjid Baiturrahim

Menjadi Ummat yang Ideal



Imam Ahmad bin Hanibal meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra. Dia berkata: Rasulullah SAW membuat garis dengan tangannya, kemudian beliau bersabda:”Inilah jalan Allah yang lurus.” kemudian beliau membuat garis di sebelah kiri dan kanan garis tadi, lalu bersabda:”Inilah jalan-jalan yang lain, tiada satupun diantara jalan itu melainkan ia ditempati oleh syetan yang mengajak manusia kejalannya”. Kemudian beliau membacakan ayat dan bahwa(yang kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya (HR.Hakim).

Jalan Islam itulah satu-satunya jalan bagi kaum muslimin untuk menitipi kejayaan dan meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Hanya dengan jalaan Islam, kaum muslimin lurus menuju tujuan sebagaimana yang digambarkan Allah SWT dalam Al-quran. Tidak ada jalan lain, seharusnyalah kaum muslimin komitmen secara totalitas dengan jalan Islam dalam seluruh sisi kehidupannya. Menjadikn Islm sebagai landasan yang menghidupkan hati nuraninya( ruhiyah) membentuk pola piker dan cara p-andangnya terhadap kehidupan dan permasalahannya (fikriyah) dan juga membangun kekuatan materi yang unggul (jasadiyah).

Seandainya kaum muslimin telah memahami kembali makna Islam dan menjadikan Islam sebagai jalan hidupnya(dienul hayah) niscaya kebangkitan Ummat bukanlah hal yang sulit. Dalam salah satu ayat Allah SWT berfirman:”untuk manusia, menyuruh kepada yang Ma’ruf dan mencegah dar yang munkKamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan ar. Dan beriman  kepada Allah.”sedangkan pada salah satu sabdanyaRasulullah SAW pun menyatakan,”al-Islaam ya’luu wa la yu’laa alaaih”. Islam itu tinggi dan tidak ada yang melebih ketinggiannya.

Ketinggian Islam mencakup ajarannya yang lengkap selaras dengan fitrah manusia,membawa ketentraman dan kedamaian, tidak ada yang melebihi ketinggian nilai-nilai Islam. Berpegang teguh dengan Islam akan membawa kaum muslimin pada ketinggian yang sama, sehingga seandainya kaum muslimin melaksanakannya secara utuh maka ia akan muncul sebagai Khairan Ummat, sebaik-baiknya umat, Ummat terbaik itulah ummat ideal sebagaimana yang dinyatakan Allah SWT, dan hanya dengan Islam-lah jalan untuk mewujudkannya….. 

sumber majalah ummat dpu dt

Khalifah Gila ?



Memang betul, Khalifah Umar bin Khaththab telah berubah ingatan. Banyak yangmelihatnya dengan mata kepala sendiri. Barangkali karena Umar di masa mudanya sarat dengan dosa, seperti merampok, mabuk-mabukkan, malah suka mengamuk tanpa berperi kemanusiaan, sampai orang tidak bersalah banyak yang menjadi korban. Itulah yang mungkin telah menyiksa batinnya sehingga iadi timpa penyakit jiwa.

Dulu Umar sering menangis sendirian sesudah selesai menunaikan salat. Dantiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, juga sendirian. Tidak ada orang lainyang membuatnya tertawa. Bukankah hal itu merupakan isyarat yang jelas bahwaUmar bin Kaththab sudah gila?

Abdurrahman bin Auf, sebagai salah seorang sahabat Umar yang paling akrab,merasa tersinggung dan sangat murung mendengar tuduhan itu. Apalagi, hamper semua rakyat

Madinah telah sepakat menganggap Umar betul-betul sinting. Dan,sudah tentu, orang sinting tidak layak lagi memimpin umat atau negara.

Yang lebih mengejutkan rakyat, pada waktu melakukan salat Jum'at yang lalu,ketika sedang berada di mimbar untuk membacakan khotbahnya,sekonyong-konyong Umar berseru, "Hai sariah, hai tentaraku. Bukit itu, bukit itu, bukit itu!"Jemaah pun geger. Sebab ucapan tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan isi khotbah yang disampaikan. "Wah, khalifah kita benar-benar sudahgila," gumam rakyat Madinah yang menjadi makmum salat Jumat hari itu. Tetapi Abdurrahman tidak mau bertindak gegabah, ia harus tahu betul, apasebabnya Umar berbuat begitu. Maka didatanginya Umar, dan ditanyainya,"Wahai Amirul Mukminin. Mengapa engkau berseru-seru di sela-sela khotbahengkau seraya pandangan engkau menatap kejauhan?" Umar dengan tenangmenjelaskan, "Begini, sahabatku. Beberapa pekan yang lewat aku mengirimkanSuriah, pasukan tentara yang tidak kupimpin langsung, untuk membasmi kaumpengacau. Tatkala aku sedang berkhotbah, kulihat pasukan itu dikepung musuhdari segala penjuru. Kulihat pula satu-satunya benteng untuk mempertahankandiri adalah sebuah bukit dibelakang mereka. Maka aku berseru: bukit itu,bukit itu, bukit itu!"

Setengah tidak percaya, Abdurrahman megerutkan kening. "Lalu, mengapa engkaudulu sering menangis dan tertawa sendirian selesai melaksanakan salatfardhu?" tanya Abdurrahman pula. Umar menjawab, "Aku menangis kalau teringatkebiadabanku sebelum Islam. Aku pernah menguburkan anak perempuankuhidup-hidup. Dan aku tertawa jika teringat akan kebodohanku. Kubikin patungdari tepung gandum, dan kusembah-sembah seperti Tuhan."

Abdurrahman lantas mengundurkan diri dari hadapan Khalifah Umar. Ia belumbisa menilai, sejauh mana kebenaran ucapan Umar tadi. Ataukah hal itu justrulebih membuktikan ketidakwarasannya sehingga jawabannya pun kacau balau?Masak ia dapat melihat pasukannya yang terpisah amat jauh dari masjidtempatnya berkhotbah?

  Akhirnya, bukti itupun datang tanpa dimintanya. Yaitu manakala sariah yangkirimkan Umar tersebut telah kembali ke Madinah. Wajah mereka berbinar-binarmeskipun nyata sekali tanda-tanda kelelahan dan bekas-bekas luka yangdiderita mereka. Mereka datang membawa kemenangan. Komandan pasukan itu, pada hari berikutnya, bercerita kepada masyarakatMadinah tentang dasyatnya peperangan yang dialami mereka. "Kami dikepungoleh tentara musuh, tanpa harapan akan dapat meloloskan diri dengan selamat.Lawan secara beringas menghantam kami dari berbagai jurusan. Kami sudahluluh lantak. Kekuatan kami nyaris terkuras habis. Sampai tibalah saat salatJumat yang seharusnya kami kejakan. Persis kala itu, kami mendengar sebuahseruan gaib yang tajam dan tegas: "Bukit itu, bukit itu, bukit itu!" Tigakali seruan tersebut diulang-diulang sehingga kami tahu maksudnya.Serta-merta kami pun mundur ke lereng bukit. Dan kami jadikan bukit itusebagai pelindung di bagian belakang. Dengan demikian kami dapat menghadapiserangn tentara lawan dari satu arah, yakni dari depan. Itulah awal kejayaan kami."

Abdurrahman mengangguk-anggukkan kepala dengan takjub. Begitu pulamasyarakat yang tadinya menuduh Umar telah berubah ingatan. Abdurrahmankemudian berkata, "Biarlah Umar dengan kelakuannya yang terkadang menyalahiadat. Sebab ia dapat melihat sesuatu yang indera kita tidak mampu melacaknya"

Dari buku Kisah Teladan - K.H. Abdurrahman Arroisi

KONSULTASI KEISLAMAN BERSAMA USTADZ YAHYA BULETIN AN NABA EDISI 36


Sesi konsultasi seputar agama bersama ust. Yahya, bagi kaum muslimin yang memiliki Pertanyaan, kritik dan saran, silahkan kirim  SMS  ke 0822 1867 8377


1. Ust yang dimuliakan Alloh saya seorang akhwat 24 th keinginan menikah ada tapi dihadapkan 2 masalah ,pertama saya ingin bekerja membantu ortu menyekolahkan 4 adik saya kedua kakak perempuan saya belum menikah yang menjadi pertanyaan bagaimana jika sudah menikah saya masih membiayain adik untuk bersekolah dan suami tidak mengijinkannya? Wasalaam 08191044annaba

Jawab: Bismillah wal hamdulillah washolaatu wasalamu ala rosulillah waba’du. Menikah merupakan penyempurna sebagian agama, sebelum menikah anti hendaknya mendiskusikan hal hal yang jadi masalah dengan calon anti ,beri pengertian dengan bijak sana, Insya Alloh kalau seorang calon yang bijak akan memahaminya, tidak ada masalah seseorang menikah mendahului kakak kakanya , tidak ada larangan dalam islam.

2. Pa ustad Di Era dlobalisasi ini  kebohongan&kepalsuan telah menjalar dilapisan masyarakt sy ingin sekli menjlnkn bisnis seperti yng ditunjukn Rosululloh tetpi dlm kenytn dilapangan banyak bertentangan, saya seolah dipaksa untuk mengikuti procedural yang secara langsung merugikan pihak lain mohon saran dan solusinya, Syukran Benny panorama

Jawab: Seorang muslim dimanapun dia berada harus punya karakter yang baik , yaitu takwa ! Rosulululloh mengatakan "bertakwalah kepada Allah dimanapun kalian berada. jadi kalau saya ibaratkan seorang muslim itu ibarat intan, yang namanya intan tetap saja meskipun dilumpur dia tetap intan yang mahal harganya. jadi tidak lantas beralasa karen era globalisasi ataupun lainnya ia berubah atau tidak punya karakter tadi, jadi prinsip seorang muslim itu dimanpun dia berada disanalah syari'at dinjujung, dan ingatlah saudaraku Allah berjanji barang siapa yang bertakwa ( sebenar benarnya) maka akan diberi jalan dari setiap masalah .Wallohu 'Alam

3. P ustd saya seorng karyawati café. Singkat cerita saya merasa teman-teman dikerjaan selalu iri terhadap saya, karena saya mampu membeli apa saja yang saya inginkan dan Alhamdulillah saya selalu bersyukur kepada Allah SWT karena saya diberikan rizki yang lebih. Dan itu juga hasil kerja keras saya, dan tanpa mereka sadari mereka hidup boros sehingga mereka merasa kekurangan, bagaimana seharusnya sikap saya kepada mereka? Mohon penjelasaanya. 08965524annaba
Jawab: Tidak selayaknya seorang muslim  menyandarkan kepada diri sendiri  ketika mendapat karunia Allah,seperti ungkapan bahwa saya bisa begini dan beli itu adalah karena kerja keras saya, hendaknya mengatakan ini karunia Allah yang didapat dengan cara kerja keras ,itulah adab seorang muslim karena semua yang sampai kepada kita adalah karunia Alloh semata, berbuat iri pada karunia yg diberikan pada orang lain disamping perbuatan dosa, secara tidak langsung ia menuduh Allah salah membagi karuniaanya, dan sebaiknya saudari tidak menampakan hal hal yg mengundang iri meskipun itu sah sah saja ,namun ketika keadaan sepert yang ditanyakan diatas sebaiknya tidak, terus saja bersyukur dengan cara mentaati Allah , Insya Allah lambat laun merekapun akan sadar dan jangan lupa do'akan teman temanya agar mendapat hidayah dan selalu bersyukur. WallahuA'lam

Bagi kaum muslimin yang memiliki Pertanyaan, kritik dan saran, silahkan kirim  SMS  ke 0822 1867 8377

Suasana Waktu Subuh di Istanbul Turki

Seabad lalu kekhalifahan islam yang terakhir, yakni Turki Utsmani telah runtuh. Daerah tersebut diubah menjadi sebuah negara sekuler. Berbagai atribut keislaman dilarang di sana, bahkan beberapa masjid dialih fungsikan kegunaanya dari tempat ibadah menjadi tempat fasilitas negara seperti museum, kantor bahkan dijadikan gudang.


Namun kini, Turki baru telah tumbuh dan bangkit,.... sekularisme sudah ditinggalkan oleh rakyat Turki dan kini mulai membangun kembali ideologi Islam yang sudah lama ditinggalkan di negara tersebut. Berikut adalah video suasana subuh di kota Istanbul Turki yang menjadi bukti kebangkitan Islam di tanah Konstatinopel,...


Back To Top